Langsung ke konten utama

Bukan Sekadar Pameran, UYCC Art Gallery Jadi Spot Favorit Konten Kreator


Penulis: Ajeng Vanesa Zusanani | Editor: Rania Chyntia Mecca

Dok. Pribadi/Ajeng Vanesa Zusanani

Surabaya - Di tengah beragamnya pilihan tempat hiburan di Surabaya, UYCC Art Gallery menawarkan pengalaman yang berbeda. UYCC (Unicorn Young Collectors Club) Art Gallery berlokasi di Jalan Embong Tanjung No.46–48, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya. Berada di lantai dua The Win Hotel, galeri ini menjadi lokasi strategis yang mudah diakses dari pusat kota. 

Memasuki ruang galeri, pengunjung disambut suasana temaram dengan penataan karya yang artistik. Lukisan dan instalasi seni ditampilkan di berbagai sudut ruang dengan visual yang menarik perhatian. Hal ini menjadikan galeri tidak hanya sebagai ruang apresiasi seni, tetapi juga spot favorit untuk membuat konten.


Dok. Pribadi/Ajeng Vanesa Zusanani

UYCC Art Gallery berdiri sejak pertengahan tahun 2023 dan berada dalam satu manajemen dengan Unic Hotel. Galeri ini dikelola oleh seorang kolektor seni karya seniman lokal Indonesia dari berbagai kota. Tema pameran pun berganti setiap tiga hingga enam bulan, sehingga menghadirkan pengalaman visual yang selalu baru.

Pada edisi kali ini, UYCC Art Gallery mengusung tema “Your Camera Still Sucks” yang merefleksikan perkembangan seni sejak hadirnya fotografi pada abad ke-19. Dimana kehadiran kamera sempat dianggap mampu menggantikan peran pelukis dalam merekam realitas. Namun, seni justru berkembang menjadi lebih ekspresif dan menghadirkan makna-makna yang tidak sepenuhnya dapat tertangkap kamera.


Galeri ini buka setiap hari mulai pukul 12.00 hingga 20.00 WIB, dengan harga tiket masuk Rp35.000 per orang untuk satu edisi pameran. Tiket tersebut dapat digunakan untuk beberapa kali kunjungan selama tema yang sama masih berlangsung. Dalam sehari, jumlah pengunjung pada weekdays berkisar antara 30 hingga 50 orang dan didominasi oleh remaja serta dewasa muda. 


“Pengunjungnya campur, tapi kebanyakan remaja dan dewasa muda. Mereka biasanya datang untuk membuat konten TikTok atau Instagram,” ujar Maira, penjaga galeri.


Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran cara menikmati seni, khususnya di kalangan generasi muda. Kini tidak hanya menjadi tempat melihat karya dan ruang apresiasi, tetapi juga ruang produksi konten digital. Menjadikan tempat di mana seni dan media sosial saling beririsan. 


Di sisi lain, UYCC Art Gallery juga membuka peluang kolaborasi bagi para seniman lokal Indonesia. Galeri ini mengajak seniman dari berbagai daerah di Indonesia untuk menampilkan karya mereka melalui sistem kerja sama terbuka. Hal ini menjadikan galeri sebagai wadah bagi seniman lokal untuk memperluas jangkauan karya mereka dengan audiens yang lebih luas.


Dengan konsep yang adaptif terhadap perkembangan zaman, UYCC Art Gallery menunjukkan pergeseran fungsi bahwa seni tidak lagi ekslusif. Di tangan generasi muda, galeri seni kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibagikan di media sosial.



Ruang seni yang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan konten digital.

























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesona Thrift di Jatim Expo: Cara Anak Muda Surabaya Tampil Gaya Tanpa Harus Mahal

Penulis: Cahya Dwi Calista Putri | Editor: Nathania Indy Putri Foto: Dok. Pribadi/Cahya Dwi Calista Putri Surabaya –   Beberapa tahun terakhir, pandangan terhadap barang bekas, terutama pakaian telah bergeser total. Jika dulu hanya dianggap sebelah mata, kini ‘thrifting’ atau berburu pakaian bekas berkualitas telah bertransformasi menjadi tren fashion yang digandrungi generasi muda di berbagai kota. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai event UMKM dan fashion , seperti yang terekam dalam kemeriahan Dorkas Fest di Jatim Expo Surabaya Maret lalu. Gelaran tersebut menjadi bukti nyata bahwa stigma pakaian bekas yang dulu dianggap sebelah mata, kini telah bergeser menjadi tren fashion yang bergengsi dan ramah di kantong.  Gedung Jatim Expo disulap menjadi pusat perburuan “harta karun”. Bukan soal baju loak yang berantakan, koleksi yang ditawarkan sudah dikurasi dengan rapi oleh puluhan stan. Pilihannya pun sangat lengkap, mulai dari kaos vintage tahun 90-an, deretan sepatu s...

Di Kahuripan, Akhir Pekan Bukan untuk Rebahan

Penulis: Eka Ramadani Anta Oktavia | Editor: Aura Wistara Ada Foto: Dok. Pribadi/Eka Ramadani Anta Oktavia. Suasana pagi di Jalan Kahuripan, Sidoarjo (5/4/2026). Berbagai kalangan memadati kawasan ini untuk berolahraga Sidoarjo – Matahari belum terlalu tinggi ketika Jalan Kahuripan sudah dipenuhi langkah kaki. Minggu pagi, (5/4/2026), kawasan yang dikenal dengan deretan pohon rindang di kanan dan kiri jalannya itu kembali menjadi titik kumpul warga Sidoarjo. Mereka datang bukan karena acara khusus, melainkan karena telah menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan bersama orang-orang yang mereka cintai. Di antara keramaian itu, terlihat sepasang suami istri berlari santai sambil sesekali memperlambat langkahnya, mengikuti putra kecilnya yang mengayuh sepeda mungil. Dian, warga Sukodono, sudah menjadikan Kahuripan sebagai tujuan akhir pekan bersama suami dan anaknya yang masih berusia empat tahun. “Saya tiap akhir pekan lebih ke quality time bareng keluarga aja, tapi dalam ...