Foto: Dok. Pribadi/Cahya Dwi Calista
Putri
Surabaya – Beberapa tahun terakhir, pandangan terhadap barang bekas, terutama pakaian telah bergeser total. Jika dulu hanya dianggap sebelah mata, kini ‘thrifting’ atau berburu pakaian bekas berkualitas telah bertransformasi menjadi tren fashion yang digandrungi generasi muda di berbagai kota. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai event UMKM dan fashion, seperti yang terekam dalam kemeriahan Dorkas Fest di Jatim Expo Surabaya Maret lalu. Gelaran tersebut menjadi bukti nyata bahwa stigma pakaian bekas yang dulu dianggap sebelah mata, kini telah bergeser menjadi tren fashion yang bergengsi dan ramah di kantong.
Gedung Jatim Expo disulap menjadi pusat perburuan “harta
karun”. Bukan soal baju loak yang berantakan, koleksi yang ditawarkan sudah
dikurasi dengan rapi oleh puluhan stan. Pilihannya pun sangat lengkap, mulai
dari kaos vintage tahun 90-an, deretan sepatu sneakers ikonik,
celana denim berkualitas, hingga topi dengan desain unik yang sulit ditemukan
di toko retail biasa.
“Thrift itu lebih murah, tapi barangnya nggak kalah bagus
sama beli baru,” ujar Azhel (18), salah satu pengunjung yang sibuk menenteng
kantong belanjaan. Menurutnya, harga yang jauh lebih terjangkau menjadi daya
tarik utama, namun kualitas tetap menjadi penentu.
Bagi para thrifter, kegiatan ini bukan sekadar urusan
belanja. Ini adalah cara mereka mengekspresikan diri. Di tengah gempuran fast
fashion yang memproduksi barang massal, anak muda kini lebih memilih
menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan satu item yang mempunyai
karakter kuat.
“Aku sering dapat barang unik kayak dress atau kemeja
pendek, tapi nggak pasaran. Jadi nggak takut kembaran sama orang di jalan,”
ujar Syifa (19), salah satu pengunjung yang mengaku lebih puas berburu baju
bekas dibanding belanja di mall. Bagi Syifa dan banyak anak muda lainnya, thrifting
adalah cara paling efektif untuk menjaga orisinalitas gaya tanpa harus menguras
tabungan.
Senada dengan Syifa, pengunjung lain bernama Ara (21) mengaku
bahwa berburu pakaian bekas sudah menjadi pilihan utamanya untuk mengisi waktu
luang. Baginya, menyisir gantungan baju di antara kerumunan adalah cara seru
untuk melepas penat. “Kalau lagi senggang atau hari libur, aku biasanya sih
nyempetin buat mampir ke tempat thrift. Apalagi kalau ada event
kayak gini, seru aja gitu cuci mata sekaligus cari yang cocok, sayang kalau
dilewatin,” ungkap Ara.
Namun, di balik tren yang meledak ini, terselip sebuah
kekhawatiran klasik. Dulu, tidak sedikit orang yang ragu untuk mencoba
thrifting karena ketakutan akan isu kesehatan, terutama risiko penyakit kulit
yang mungkin menempel pada pakaian bekas. Bayang-bayang bakteri atau kuman
seringkali menjadi penghalang bagi mereka yang ingin memulai gaya hidup ini.
Kekhawatiran tersebut sebenarnya wajar, namun bukan berarti
tidak ada solusinya. Seiring meningkatnya edukasi, kini para pecinta thrift
sudah lebih paham cara menangani barang buruan mereka agar tetap steril dan
aman dipakai. Dengan penanganan yang tepat, baju bekas pun bisa sebersih dan
senyaman baju baru.
Pada akhirnya, gelaran ini membuktikan bahwa untuk tampil
stylish tidak selalu harus mahal. Thrifting telah menjadi gaya hidup baru yang
cerdas karena lebih menghargai pakaian lama, ramah lingkungan, namun tetap
ramah di kantong.
Panduan cerdas membandingkan belanja thrift dengan barang mall serta tips sterilisasi pakaian agar tetap higienis.

.png)
Komentar
Posting Komentar