Langsung ke konten utama

Ketika Ritual Spiritual Jadi Gaya Hidup Anak Muda Surabaya


Penulis : Wilson Sebastian | Editor : Jeremia Michael

Foto : Dok. Pribadi/ Wilson Sebastian

SURABAYA — Di tengah keramaian kehidupan kota yang serba cepat, sebagian anak muda Surabaya justru memilih memperlambat Langkah mereka. Bukan dengan membuka aplikasi meditasi atau bergabung dengan kelas yoga, melainkan dengan hal yang lebih sederhana, yaitu rutin datang ke vihara setiap minggu.

Di Vihara Buddhayana Dharmawira Centre (BDC), Jalan Raya Panjang Jiwo Permai, Surabaya, melaksanakan praktik puja bhakti mingguan bukan lagi sekadar kewajiban keagamaan. Bagi sebagian jemaat, ini sudah menjadi bagian dari rutinitas hidup, seperti olahraga pagi atau meal prep akhir pekan.

Dari Pendiam, Jadi Terbuka

Cathrine Anggrainy, 23 tahun, adalah salah satu contohnya. Animator freelance ini sudah mengenal vihara sejak kecil, namun baru benar-benar aktif dalam tiga tahun terakhir setelah bergabung dengan komunitas Muda-Mudi BDC dan menjadi salah satu pengurus organisasi tersebut.

"Awalnya saya ikut karena orangnya ramah dan terbuka," ujar Cathrine. Keputusan sederhana itu ternyata membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Cathrine yang dulu dikenal sangat pemalu, bahkan pernah dikira bisu oleh orang-orang di sekitarnya, kini jauh lebih terbuka dalam bersosialisasi. Ia menyebut komunitas vihara sebagai ruang belajar yang tidak ia temukan di tempat lain. Salah satu praktik yang ia jalani secara konsisten adalah Pancasila Buddhist, lima latihan moral yang menjadi pedoman hidup sehari-hari umat Buddha.

"Perubahannya bukan cuma waktu di vihara. Ini kebawa ke kehidupan sehari-hari," katanya.

Gaya Hidup, Bukan Sekadar Ritual

UAP. Vajra Bodhi, Salah satu pemimpin puja bhakti di Vihara BDC yang telah aktif selama tiga tahun, melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar tren. Menurutnya, ajaran Buddha memiliki daya tarik tersendiri di era modern, justru karena sifatnya yang tidak kaku.

"Ajaran Buddhist itu mengikuti Ajaran “The Way of Life”, Hal ini membuat ajaran buddhism tidak terikat tradisi, dogma, bahkan melintas Jaman" jelasnya. Ia menambahkan bahwa ajaran ini menjawab pertanyaan mendasar yang selalu relevan sepanjang masa: tentang penderitaan, dan bagaimana manusia bisa terbebas darinya.

Dalam praktik sehari-hari, ia menerapkan konsep Jalan Berunsur Delapan, panduan hidup yang mencakup cara berpikir, berbicara, hingga bermata pencaharian yang benar. Hasilnya, ia merasakan perubahan nyata dalam dirinya, lebih sederhana, lebih sabar, dan lebih tertib.

Spiritual itu Pilihan, Bukan Warisan

Perubahan yang dirasakan UAP. Vajra Bodhi rupanya bukan pengalaman tunggal. Justru, cerita-cerita seperti inilah yang belakangan menarik perhatian orang-orang di luar komunitas Buddhist untuk ikut mendekat.

Tidak semua yang duduk dalam lingkaran puja bhakti di Vihara BDC terlahir sebagai Buddhist. UAP. Vajra Bodhi menyebut semakin banyak orang dari luar komunitas yang datang dengan rasa ingin tahu, bukan karena kewajiban keluarga, melainkan karena pilihan sadar.

"Mereka mencari sesuatu yang tidak mereka temukan di tempat lain. Pertanyaan soal makna hidup, soal bagaimana menghadapi tekanan," ujarnya.

Di sinilah Buddhism terasa relevan sebagai lifestyle bukan karena ikonik atau estetik, tapi karena menjawab kebutuhan nyata, “ketenangan di tengah dunia yang tidak pernah berhenti bergerak.”


Rutinitas Kecil yang Mengubah Segalanya

Cathrine mungkin tidak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana ikut komunitas muda-mudi di vihara dekat rumah akan mengubah cara ia memandang dirinya sendiri. Tapi itulah yang terjadi.

Tidak ada transformasi dramatis dalam semalam. Hanya rutinitas kecil yang dijalani konsisten, minggu demi minggu, hingga perubahannya terasa sendiri.

Dan mungkin itulah inti dari mindful living yang sesungguhnya bukan tentang estetika tenang di feed Instagram, tapi tentang bagaimana kamu menjalani hari Senin paginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesona Thrift di Jatim Expo: Cara Anak Muda Surabaya Tampil Gaya Tanpa Harus Mahal

Penulis: Cahya Dwi Calista Putri | Editor: Nathania Indy Putri Foto: Dok. Pribadi/Cahya Dwi Calista Putri Surabaya –   Beberapa tahun terakhir, pandangan terhadap barang bekas, terutama pakaian telah bergeser total. Jika dulu hanya dianggap sebelah mata, kini ‘thrifting’ atau berburu pakaian bekas berkualitas telah bertransformasi menjadi tren fashion yang digandrungi generasi muda di berbagai kota. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai event UMKM dan fashion , seperti yang terekam dalam kemeriahan Dorkas Fest di Jatim Expo Surabaya Maret lalu. Gelaran tersebut menjadi bukti nyata bahwa stigma pakaian bekas yang dulu dianggap sebelah mata, kini telah bergeser menjadi tren fashion yang bergengsi dan ramah di kantong.  Gedung Jatim Expo disulap menjadi pusat perburuan “harta karun”. Bukan soal baju loak yang berantakan, koleksi yang ditawarkan sudah dikurasi dengan rapi oleh puluhan stan. Pilihannya pun sangat lengkap, mulai dari kaos vintage tahun 90-an, deretan sepatu s...

Di Kahuripan, Akhir Pekan Bukan untuk Rebahan

Penulis: Eka Ramadani Anta Oktavia | Editor: Aura Wistara Ada Foto: Dok. Pribadi/Eka Ramadani Anta Oktavia. Suasana pagi di Jalan Kahuripan, Sidoarjo (5/4/2026). Berbagai kalangan memadati kawasan ini untuk berolahraga Sidoarjo – Matahari belum terlalu tinggi ketika Jalan Kahuripan sudah dipenuhi langkah kaki. Minggu pagi, (5/4/2026), kawasan yang dikenal dengan deretan pohon rindang di kanan dan kiri jalannya itu kembali menjadi titik kumpul warga Sidoarjo. Mereka datang bukan karena acara khusus, melainkan karena telah menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan bersama orang-orang yang mereka cintai. Di antara keramaian itu, terlihat sepasang suami istri berlari santai sambil sesekali memperlambat langkahnya, mengikuti putra kecilnya yang mengayuh sepeda mungil. Dian, warga Sukodono, sudah menjadikan Kahuripan sebagai tujuan akhir pekan bersama suami dan anaknya yang masih berusia empat tahun. “Saya tiap akhir pekan lebih ke quality time bareng keluarga aja, tapi dalam ...

Bukan Sekadar Pameran, UYCC Art Gallery Jadi Spot Favorit Konten Kreator

P enulis: Ajeng Vanesa Zusanani | Editor: Rania Chyntia Mecca Dok. Pribadi/Ajeng Vanesa Zusanani Surabaya - Di tengah beragamnya pilihan tempat hiburan di Surabaya, UYCC Art Gallery menawarkan pengalaman yang berbeda. UYCC (Unicorn Young Collectors Club) Art Gallery berlokasi di Jalan Embong Tanjung No.46–48, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya. Berada di lantai dua The Win Hotel , galeri ini menjadi lokasi strategis yang mudah diakses dari pusat kota.  Memasuki ruang galeri, pengunjung disambut suasana temaram dengan penataan karya yang artistik. Lukisan dan instalasi seni ditampilkan di berbagai sudut ruang dengan visual yang menarik perhatian. Hal ini menjadikan galeri tidak hanya sebagai ruang apresiasi seni, tetapi juga spot favorit untuk membuat konten. Dok. Pribadi/Ajeng Vanesa Zusanani UYCC Art Gallery berdiri sejak pertengahan tahun 2023 dan berada dalam satu manajemen dengan Unic Hotel. Galeri ini dikelola oleh seorang kolektor seni karya seniman lokal Indones...