Langsung ke konten utama

Melepas Penat di Kota Pahlawan: Fenomena Anak Rantau Cari Hiburan di Klub Malam Surabaya


Penulis : Jeremia Michael | Editor : Wilson Sebastian 



Foto: Dok. Pribadi/Jeremia Michael

Surabaya – Gemerlap lampu neon dan dentuman musik elektronik menjadi pemandangan lazim di sudut-sudut kota Surabaya saat malam mencapai puncaknya. Fenomena ini kini semakin lekat dengan gaya hidup para pekerja muda perantau yang menjadikan klub malam sebagai tempat pelarian dari penatnya rutinitas pekerjaan di kota industri.

Surabaya, sebagai pusat ekonomi di Jawa Timur, menarik ribuan pendatang setiap tahunnya. Namun, di balik ambisi karier, banyak anak rantau yang harus bergelut dengan rasa sepi dan tekanan mental yang tinggi.

Salah satu perantau yang merasakan dampak tersebut adalah Nadine (23). Perempuan asal jakarta yang sudah 3 tahun berkuliah di Surabaya ini mengaku rutin mengunjungi klub malam di kawasan Surabaya Barat maupun pusat kota saat akhir pekan.

"Hidup di perantauan itu tekanan mentalnya beda. Di kampus kita dituntut bisa memanajemen waktu dan pintar, sementara di kos kita sendirian. Klub malam jadi tempat buat aku benar-benar 'lepas' dan merasa menjadi diri sendiri," ujar Nadine 23 saat diwawancarai di salah satu tempat hiburan malam, Sabtu malam.

Faktor Psikologis dan Sosial
Bagi Nadine, aktivitas ini bukan sekadar gaya hidup hura-hura atau pemborosan. Ia memandangnya sebagai bentuk self-reward atau penghargaan atas kerja kerasnya selama sepekan penuh. Menurutnya, atmosfer di klub malam membantunya melupakan sejenak beban tanggung jawab kuliah yang menumpuk.

Meski menyadari adanya stigma negatif dari masyarakat mengenai perempuan yang sering keluar malam, Nadine memilih untuk tetap fokus pada keseimbangan hidupnya sendiri.
"Stigma itu pasti ada, tapi mereka tidak tahu betapa beratnya berjuang sendirian di kota orang. Asalkan kita tahu batasan, menjaga keamanan diri, dan tetap bekuliah dengan baik di hari Senin, saya rasa itu pilihan pribadi," tambahnya.

Dinamika Kota Metropolitan

Sosiolog menilai fenomena ini sebagai bentuk adaptasi masyarakat urban. Di kota besar seperti Surabaya, ruang publik yang menawarkan interaksi sosial yang cair di malam hari cenderung terbatas pada kafe atau klub malam.

Bagi para perantau, tempat-tempat seperti ini menawarkan tiga hal utama:
• Katarsis: Media pelepasan emosi melalui musik dan tarian.
• Lingkungan Sosial: Kesempatan bertemu dengan orang-orang baru di luar lingkaran profesional.
• Validasi Diri: Merasakan atmosfer kota besar yang dinamis dan modern.



Seiring malam yang semakin larut, aktivitas di berbagai klub malam di Surabaya tetap menunjukkan eksistensinya. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya kebisingan, namun bagi Nadine dan banyak perantau lainnya, ini adalah cara mereka untuk tetap waras dan bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesona Thrift di Jatim Expo: Cara Anak Muda Surabaya Tampil Gaya Tanpa Harus Mahal

Penulis: Cahya Dwi Calista Putri | Editor: Nathania Indy Putri Foto: Dok. Pribadi/Cahya Dwi Calista Putri Surabaya –   Beberapa tahun terakhir, pandangan terhadap barang bekas, terutama pakaian telah bergeser total. Jika dulu hanya dianggap sebelah mata, kini ‘thrifting’ atau berburu pakaian bekas berkualitas telah bertransformasi menjadi tren fashion yang digandrungi generasi muda di berbagai kota. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai event UMKM dan fashion , seperti yang terekam dalam kemeriahan Dorkas Fest di Jatim Expo Surabaya Maret lalu. Gelaran tersebut menjadi bukti nyata bahwa stigma pakaian bekas yang dulu dianggap sebelah mata, kini telah bergeser menjadi tren fashion yang bergengsi dan ramah di kantong.  Gedung Jatim Expo disulap menjadi pusat perburuan “harta karun”. Bukan soal baju loak yang berantakan, koleksi yang ditawarkan sudah dikurasi dengan rapi oleh puluhan stan. Pilihannya pun sangat lengkap, mulai dari kaos vintage tahun 90-an, deretan sepatu s...

Di Kahuripan, Akhir Pekan Bukan untuk Rebahan

Penulis: Eka Ramadani Anta Oktavia | Editor: Aura Wistara Ada Foto: Dok. Pribadi/Eka Ramadani Anta Oktavia. Suasana pagi di Jalan Kahuripan, Sidoarjo (5/4/2026). Berbagai kalangan memadati kawasan ini untuk berolahraga Sidoarjo – Matahari belum terlalu tinggi ketika Jalan Kahuripan sudah dipenuhi langkah kaki. Minggu pagi, (5/4/2026), kawasan yang dikenal dengan deretan pohon rindang di kanan dan kiri jalannya itu kembali menjadi titik kumpul warga Sidoarjo. Mereka datang bukan karena acara khusus, melainkan karena telah menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan bersama orang-orang yang mereka cintai. Di antara keramaian itu, terlihat sepasang suami istri berlari santai sambil sesekali memperlambat langkahnya, mengikuti putra kecilnya yang mengayuh sepeda mungil. Dian, warga Sukodono, sudah menjadikan Kahuripan sebagai tujuan akhir pekan bersama suami dan anaknya yang masih berusia empat tahun. “Saya tiap akhir pekan lebih ke quality time bareng keluarga aja, tapi dalam ...

Bukan Sekadar Pameran, UYCC Art Gallery Jadi Spot Favorit Konten Kreator

P enulis: Ajeng Vanesa Zusanani | Editor: Rania Chyntia Mecca Dok. Pribadi/Ajeng Vanesa Zusanani Surabaya - Di tengah beragamnya pilihan tempat hiburan di Surabaya, UYCC Art Gallery menawarkan pengalaman yang berbeda. UYCC (Unicorn Young Collectors Club) Art Gallery berlokasi di Jalan Embong Tanjung No.46–48, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya. Berada di lantai dua The Win Hotel , galeri ini menjadi lokasi strategis yang mudah diakses dari pusat kota.  Memasuki ruang galeri, pengunjung disambut suasana temaram dengan penataan karya yang artistik. Lukisan dan instalasi seni ditampilkan di berbagai sudut ruang dengan visual yang menarik perhatian. Hal ini menjadikan galeri tidak hanya sebagai ruang apresiasi seni, tetapi juga spot favorit untuk membuat konten. Dok. Pribadi/Ajeng Vanesa Zusanani UYCC Art Gallery berdiri sejak pertengahan tahun 2023 dan berada dalam satu manajemen dengan Unic Hotel. Galeri ini dikelola oleh seorang kolektor seni karya seniman lokal Indones...